Selasa, 09 Oktober 2012

Alessa dan Helena

Cahaya kebiruan menembus jendela kaca bertirai putih tulang dikamar Alessa, waktu sudah menunjukan pukul 6 pagi namun diluar masih terlihat gelap. Ya, musim gugur sudah berakhir, berganti dengan musim dingin yang penuh dengan misteri dan kabut-kabut putih yang menyelimuti halaman. Tidak pernah setebal dan sedingin itu sebelumnya.
Alessa masih meringkuk diperbaringannya yang hangat, matanya tidak terpejam sama sekali sejak beberapa menit yang lalu. Tatapannya menerawang menembus jendela kamarnya yang tertutup gorden putih tulang yang cukup transparan.
Dadanya tiba-tiba berdesir saat melihat sesuatu yang bergerak-gerak diluar sana. ‘ayunan itu...?’ Alessa mengerutkan kening, namun tidak beranjak dari posisinya sekarang. Dilihatnya samar-samar ayunan ban mobil di pohon ek diluar sana berayun-ayun sendiri, teratur dan seperti ada tubuh manusia yang mendorongnya. Tapi tak ada siapapun.
‘tidak mungkin bergerak sendiri’ Alessa menyibakkan selimut dan bangkit dari perbaringannya. Masih dengan kening mengerut dan mata awas, derap kakinya dibuat pelan dan teratur mengikuti suara detak jantung didadanya yang berdebar-debar.
DEG!
Bulu kuduknya berdiri saking dinginnya udara yang menyentuh tengkuknya. ‘ish’ Alessa merintih sambil menggosok-gosokkan tangannya kebalakang leher supaya hangat. Terlihat olehnya ban mobil itu masih berayun-ayun dengan kecepatan yang sama seperti tadi. Alessa perlahan-lahan menyibakkan gorden putih tulang dihadapannya, matanya terpejam sesaat sebelum dia membuka mata menatap apa yang terjadi didepannya. ‘huh..’ Alessa menghembuskan nafasnya dengan cepat, saat ia membuka mata uap di kaca jendela menutupi pandangannya. Ia mengusapnya dan tidak mendapati ban mobil itu berayun-ayun seperti yang dilihatnya tadi.
“sayang!” kepala Natasha Frudgie muncul dari balik pintu dengan tiba-tiba, membuat jantung Alessa hampir meloncat dari dadanya.
“aku mengagetkanmu ya?” Alessa menggeleng pelan, rambut gadis itu berguncang kekiri dan kekanan dengan teratur.
“ayo sarapan dulu, dan pakai baju hangatmu!” kepala Natashia Frudgie menghilang secepat dan setiba-tiba muncul.
“iya, mom” Alessa mengiyakan saat ibunya sudah tidak terlihat. Ditatapnya ban mobil menggantung itu dengan tatapan menyelidik dan penasaran. Alessa sangat yakin, tadi benda itu berayun-ayun. Namun tak lama, dia sudah tak ambil pusing lagi dan langsung menyambar jaket hangat dan kaus kaki lalu memakainya. Untuk terakhir kali, Alessa melirik benda bulat diluar sana yang sama sekali tidak berayun-ayun setelah itu dia pergi kebalik pintu.
Tanpa Alessa ketahui, ban itu berayun-ayun lagi, kali ini lebih kencang daripada yang ia lihat sebelumnya, andaikan gadis itu tahu....
+++
“dad, apa kita punya tetangga?” Alessa tiba-tiba ingin mengetahui tentang tetangga misterius yang ia temui semalam. Gadis sekitar 13 tahun yang sama anehnya seperti Alessa, malah lebih aneh.
“punya, tapi kayaknya jarak dari rumah kita sekitar 800m. Jauh banget kan? Dad juga ga yakin mereka tetangga kita apa bukan” John menjelaskan dengan tampang dibuat seidiot mungkin, sampai-sampai Alessa muak melihat ayahnya bertingkah seperti itu.
“hahahaha...” Natashia tertawa terbahak, mendengar jawaban suaminya dengan ekspresi idiot yang menurutnya lucu. Dia menatap Alessa seakan anaknya sedang ingin bercanda. Tapi tidak. Alessa bukan anak yang suka bercanda.
“aku serius” Alessa mencacah-cacah omletnya dengan sendok dan garpu, wajahnya terlihat muram melihat orang tuanya tertawa seperti itu. Alessa memang payah, tidak punya selera humor yang tinggi, tidak seperti orang tuanya yang selalu membuat lawakan setiap hari disaat-saat berkumpul bersama keluarga seperti sekarang.
+++
‘menyebalkan sekali’ Alessa mendumel, mempercepat langkahnya menuju ruang perapian yang hangat dan meninggalkan ayah dan ibunya yang masih tertawa terbahak sambil sesekali melontarkan lelucon yang tidak lucu sama sekali –menurut Alessa—
Langkahnya terhenti saat melihat pintu kamarnya terbuka, padahal tadi dia sudah menutupnya rapat-rapat, dan ia yakin akan hal itu. Iapun mengubah haluan untuk kembali kekamarnya dan melihat apa yang terjadi. Kepalanya menoleh tertuju keruang makan ‘mom dan dad masih disana. Lalu?’
“Helena?” Alessa sedikit terkejut melihat Helena Wudson berada dikamarnya. Dan ia sungguh terkejut, kenapa dia hanya sedikit terkejut melihat pemandangan aneh didepannya. Dari mana gadis itu muncul? sedangkan dia merasa ayah dan ibunya tidak mempersilahkan tamu manapun masuk kedalam rumah pagi ini.
“tidak keberatankan aku ada dikamarmu?” Alessa menggeleng, dia lalu menutup pintu dan duduk disebelah Helena. Helena tidak berubah sama sekali, bajunya masih kuno dan kakinya masih telanjang.
“eh, sepertinya kamu butuh baju hangat dan kaus kaki” Alessa langsung bangkit dan membuka lemari pakaiannya.
“tidak usah, aku tidak kedinginan kok” Helena tersenyum, Alessa kembali duduk disebelah Helena dengan kikuk. ‘kenapa aku gugup ya?’
“aku suka ayunan dipohon itu” Helena menunjuk ban mobil yang tergantung dipohon ek yang diselimuti salju itu dengan telunjuknya yang sama kurusnya dengan Alessa. Ban mobil itu tiba-tiba bergoyang-goyang diterpa angin. ‘aneh sekali’
“kamu boleh memakainya juga kok” Alessa tersenyum, begitupun Helena
Helena mulai bangkit dan berjalan-jalan mengintari kamar Alessa, disentuhnya foto-foto Alessa sewaktu kecil, Helena juga menyentuh koleksi boneka kesayangan Alessa, yang sebenarnya tidak boleh disentuh siapapun.
“helena jangan!” tangan Helena berhenti mengulur saat ia hendak meraih tonk, boneka beruang lucu kesayangan Alessa. Alessa langsung mengambil dan memeluk tonk.
“ini boneka kesayanganku! Kamu jangan menyentuhnya! Siapapun jangan!” Helena mengerutkan keningnya, seakan dia tidak suka perbuatan dan kata-kata Alessa barusan.
“kamu berani mengancamku?” Helena, entah mendapatkan kekuatan super dari mana, dia mampu membuat tubuh Alessa tersungkur dengan sentuhan yang tidak begitu kasar. Mata birunya menyala-nyala menakutkan seakan dia lapar dan ingin memakan Alessia.
“tidak-tidak, tolong jangan sakiti aku” Alessa menjerit-jerit saat Helena berubah menjadi menakutkan. Matanya jahat dan senyumnya kejam. Bukan seperti Helena yang pertama kali Alessa kenal. Bukan!
“sayang bangun, bangun!!” Helena menghilang, Alessa merasakan sekelilingnya berputar-putar. ‘tadi itu pasti nyata! Pasti!’ Ibunya terlihat sangat khawatir, Ayahnya mondar-mandir sambil memegang handphone ditelinganya.
“kamu baik-baik saja kan hun?” John mengusap-usap kening Alessa dengan lembut, Alessa menggeleng dan tersenyum.
“ada apa?”
John dan Natashia saling berpandangan dan tersenyum. Lalu mereka berdua memeluk Alessia. Itu adalah jawaban yang Alessa tidak bisa pahami.
***
Seorang dokter datang sore ini, memeriksa kondisi Alessa yang sungguh menyedihkan. Kulitnya kini sepucat Helena, matanya sayu dan terlihat diselimuti ketakutan. Gadis itu bahkan tidak mengerti bagaimana bisa dia semenyedihkan itu.
“semuanya baik-baik saja hun” john mengusap kening Alessia lalu keluar dari kamar dan sepertinya mulai mengobrol dengan dokter.
“mom, apa yang terjadi denganku?” Alessa menatap ibunya yang tengah mengelus-elus rambut Alessa yang coklat muram. Natashia menarik nafas dengan cepat dan menghembuskannya dengan kasar.
“apa yang kamu rasakan?” ibunya malah balik bertanya dan membuat Alessa semakin bingung.
Alessa menarik nafas dan memutar otaknya untuk mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Ya, kejadian itu baru saja terjadi, dan Alessa merasa dia akan menceritakan masa lalunya yang suram. Masa lalu sama dengan hal lama bukan?
“Helena marah padaku. Aku takut, dia jadi jahat dan menakutkan. Padahal tadinya dia temanku. Aku menjerit lalu aku melihat mom dan dad” mata Alessa menatap lurus kearah langit-langit, seakan-akan disana terdapat rekaman kejadian yang ia ceritakan barusan dan hanya dia yang dapat menyaksikan rekaman itu.
“Helena?” Natashia ternganga, Alessa berpaling dari langit-langit dan menatap ibunya.
“Helena siapa?” kening Natashia berkedut-kedut saking tegangnya dipikirannya hanya terpaut satu Helena yang kini tengah menghantui otaknya. ‘jangan Helena James Wudson! Jangan!’ jantung Natashia berdebar-debar menanti jawaban dari putrinya.
“Helena Wudson!” Alessa menyebut nama itu seakan dia tak pernah punya masalah dengan seseorang yang namanya disebut barusan.
“Apa? Helena Wudson?” wajah Natashia seketika berubah pucat pasi.
***



Sabtu, 29 September 2012

Alessa dan Helena

Angin bertiup mendayu, menyapu dedaunan dihalaman rumah baru keluarga Frudgie yang masih berantakan. Ilalang jingga setinggi 1 meter masih terdapat didepan pagar besi dan juga disekitar pohon ek yang daunnya meranggas. Tepat diantara jumputan tinggi ilalang didepan pagar besi terdapat kotak surat yang tiangnya miring ke arah barat. Alessa Frudgie memperhatikannya sambil berauyun-ayun diatas ban mobil yang terikat ke pohon ek meranggas. Alessa Frudgie adalah anak semata wayang dari John Frudgie dan Natasha Frudgie, dan Alessa senang memperhatikan sesuatu.
Musim gugur hampir berakhir dan musim dingin hampir tiba, angin bertiup sangat kencang setiap harinya. Pohon ek besar di depan rumah keluarga Frudgie daunnya hanya tinggal beberapa helai. Sampai akhirnya, helai terakhir jatuh pada malam dimana Alessa memperhatikannya lewat jendela.
“knock knock...” Natasha Frudgie muncul dari balik pintu kamar Alessa, dia menutup pintu itu kembali setelah dia berada didalam. Lalu wanita tengah baya itu berjalan melenggak kearah jendela dimana anaknya berdiri.
“sedang melihat apa?” Natasha menopang dagunya diatas kepala Alessa, sambil tanggannya dilingkarkan dileher gadis yang sangat dicintainya itu.
“bukan apa-apa Mom” Alessa mengelus tangan ibunya sesaat lalu membalikan tubuh hingga mereka berdua berhadapan.
“aku hanya meresa tidak nyaman dirumah baru kita” Alessa menunduk dengan nafas dalam seakan-akan berkilo-kilo batu ditempelkan dibelakang kepalanya hingga membuat kepalanya berat dan dadanya sesak. Natasha segera meraih dagu gadis itu dan perlahan mengangkatnya hingga mata mereka bertemu pandang.
“kamu tahu bukan? Kita tidak punya pilihan. Ayahmu bekerja di kota ini sekarang, dan disinilah kita tinggal. Kita tidak mungkin tetap dirumah lama karena kau tahu...”
“aku mengerti” Alessa tersenyum, terlihat dipaksakan namun senyumnya mampu membuat Natasha tersenyum juga. Mereka lalu berpelukan.
***
Alessa berumur 13 tahun, bertubuh ringkih dengan kulit pucat. jari-jarinya panjang dan kurus, rambutnya lurus panjang berjuntai berwarna cokelat kehitaman, wajahnya cantik mirip ibunya, matanya bulat dan indah namun tidak bersinar, bibirnya manis namun senyumnya hampir menghilang, pipinya merah tapi bukan karena merona.
Alessa suka berayun-ayun, ia ingin sekali bisa terbang. Menurutnya dengan berayun dia bisa meresakan dirinya terbang. Dia tidak suka naik kendaraan, dia tidak suka sekolah, dia tidak suka makan daging, dia juga tidak suka berbicara kepada orang lain.
Krak!!
Kaki telanjang Alessa menginjak dahan kering dengan bunyi krak yang cukup keras tepat pada langkahnya yang ketiga belas, Alessa tidak sengaja menginjaknya karena matanya tengah mengawasi kalau-kalau orang tuanya menemukan anaknya menyelinap pergi keluar rumah selarut ini.
Satu lagi, Alessa tidak suka memakai alas kaki, ayah dan ibunya selalu mengingatkan tapi dia tidak pernah mendengar. Akibatnya telapak kaki Alessa kasar dan penuh luka goresan. Tapi baginya bukan masalah yang harus ditanggapi serius. Dia malah sudah terbiasa dengan ini.
Saat dia sudah berada sekitar 4 meter dari jendela kamarnya --ya jendela kamarnya adalah pintu yang membawanya keatas tanah yang dipayungi kegelapan ini-- dia berlari segera menuju ban mobil yang terikat pada pohon ek yang telah gundul, Alessa duduk diatas benda bulat itu dan kemudian melangkah mundur untuk ancang-ancang. Dia menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan mata. Dia mengangkat kakinya dan Wingggg!! Angin malam musim gugur merasuki kulit Alessa saat dia berayun-ayun, angin itu seperti menghisap segela kepenatannya dan melepaskannya keudara dengan kurun waktu yang sangat cepat. Gadis itu menambah kecepatan ayunannya semakin cepat dan cepat.
Srekkk.. Srekk.. Srekk!! Alessa menghentikan laju ayunannya dengan cara mengadukan kakinya yang telanjang dengan tanah, tanah yang dipijaknya mengepulkan debu kelabu yang sangat tebal dan dia mengaduh karena kakinya menjadi panas dan sakit. Keningnya berkerut menatap sekeliling dengan waspada
Srekkk.. Srekk.. Srekk... gadis itu turun dari ayunan dan mengawasi sekitar “siapa itu?”
Tidak ada yang menjawab, bunyi srekk itu malah terdengar semakin mendekat dan jelas.
Alessa mulai berputar-putar dan merasa ketakutan, matanya mengawasi ilalang disekitar tempat ia berdiri, gadis itu lalu melemparinya dengan batu kerikil, bunyi srekk itu tidak terdengar lagi setelah itu. Namun selang beberapa waktu, saat Alessa mencoba menenangkan diri, bunyi semak-semak bergemersik terdengar begitu mengganggu. Matanya menatap ilalang dengan awas, seakan-akan dia siap berlari saat sesuatu yang menakutkan muncul dari sana, Alessa menarik nafas pendek-pendek mencoba menghirup oksigen lebih sering dari yang dia bisa.
Bunyi gemerisik itu semakin dekat terdengar, Alessa mundur kebelakang dengan nafas masih tersengal. apapun yang muncul gadis itu berharap dia bisa berlari kembali kerumahnya sekarang juga, tapi nyatanya dia tidak melakukan itu. Dia tidak bisa.
“siapa itu?” Alessa bertanya sekali lagi dengan suara bergetar, dia harap tidak ada yang menjawab pertanyaannya barusan, sebenarnya dia berharap tidak ada siapapun dibalik semak itu atau apapun, angin bertiup semakin kencang dan malam sudah semakin larut. Kegelapan dan angin malam mengingatkan Alessa pada hantu tanpa kepala yang diceritakan ibunya beberapa tahun yang lalu.
“selamat malam Alessa Frudgie” jantung Alessa hampir saja berhenti berdetak ketika sebuah siluit gadis seumurannya muncul dari semak ilalang dan menyapanya seakan teman baik.
Alessa mundur beberapa langkah, dengan CO2 masih berada didalam dadanya. Siluit gadis itu semakin mendekat, membuat Alessa semakin ketakutan. wajahnya mulai terlihat berwujud dan matanya berwarna biru terlihat berkilat-kilat. Tiga langkah gadis itu maju kedepan, Alessa sudah bisa melihat tubuhnya secara utuh.
“si..siapa kau?” Gadis itu tersenyum tepat saat Alessa sudah bisa melihat rupanya secara keseluruhan. Gadis itu terlihat seperti gadis 13 tahun lainnya, hanya senyum dan matanya sedikit terlihat jahat dan menakutkan. Baju yang dipakainya kuno dan kulitnya lebih pucat dari Alessa.
“aku Helena Wudson” gadis yang bernama Helena itu mengulurkan tangan, rambutnya yang mirip Alessa berkibar tertiup angin dan seketika wangi melati menyeruak diudara. Alessa mengabaikan wangi yang menusuk hidungnya tersebut dan malah dengan senang hati menjabat tangan Helena.
Tangan gadis itu sedingin es namun Alessa tidak memperhatikan dan malah mengabaikan hal itu. Alessa tersenyum pada teman barunya. Tak pernah ia lakukan sebelumnya.
“apa tadi?”
“apa?” Helena melangkah mendekati ban mobil dan duduk disana, ia berayun-ayun kecil sambil menatap Alessa dengan tatapan aneh.
“suara tadi”
“oh, itu.. bukan apa-apa kok” Helena berancang-ancang mundur, ia mengangkat tumit kakinya lalu mengangkatnnya dan membiarkan dirinya berayun-ayun. Satu hal yang menarik, dia tidak memakai alas kaki juga.
“kau ini siapa? Dimana rumahmu?” entah kenapa Alessa kini jadi banyak bicara
“aku? Seperti yang kau tahu, aku Helena Wudson, dan rumahku tidak jauh dari sini”
“apa yang kau lakukan disini malam-malam begini?”
“menurutmu kamu sendiri sedang apa?” Helena menghentikan laju ayunannya dengan cara yang dilakukan Alessa tadi, namun dia tidak mengaduh dan terlihat baik-baik saja walaupun debu yang mengepul lebih banyak dari Alessa tadi
“aku hanya mencari udara segar”
“sepertinya akupun begitu” Alessa mengerutkan dahi
“sudah sangat malam, lebih baik aku pulang dan kau juga. Mmm.. Helena, bagaimana kalau kau kerumahku besok siang?” Helena mengangguk
“oke, sampai jumpa besok!” Helena masih berayun-ayun kecil dibawah pohon ek gundul saat Alessa berlari meninggalkannya. Matanya memperhatikan Alessa dengan seksama, seakan tak ingin lepas dari sosok teman barunya itu. Tangannya melambai membalas lambaian tangan Alessa saat dia hendak mengerek gorden.
Helena tersenyum, senyum aneh yang seharusnya tak tersungging dari bibir gadis 13 tahun. Helena tertawa, lalu tubuhnya melayang dan hilang bagaikan asap.

 

When You Close Your Eyes Copyright © 2009 Cookiez is Designed by Ipietoon | Sponsored by: Website Templates | Premium Wordpress Themes | consumer products. Distributed by: blogger template